Selasa, 04 April 2017

Dituding Makar, Sekjen FUI Bela Diri dan Bilang Begini




Heronesia.com - Polisi mengamankan Sekjen FUI Muhammad Al Khaththath menjelang aksi mendesak pencopotan Basuki Tjahaja Purnama dari kursi gubernur DKI Jakarta pada Jumat (31/3). Al Khaththath, yang juga pimpinan aksi dikenal 313 itu dibekuk kepolisian karena dituding kepolisian melakukan makar.

Tudingan itu berdasarkan penyelidikan kepolisian yang memantau pergerakan Al Khaththath bersama empat orang lainnya menjelang aksi 313. Empat orang itu merupakan peserta aksi 313 yang kini berstatus sebagai tersangka makar termasuk Al Khaththath.

Mereka adalah Zainudin Arsyad, Irwansayah, Dikho Nugraha, dan Andry. Kelimanya diamankan di tempat berbeda menjelang aksi 313.

Polisi menyatakan rencana makar dilakukan kelimanya usai beberapa kali melakukan pertemuan. Rencana menggulingkan pemerintah itu dilakukan di kawasan Menteng dan Kalibata.

Kabid Humas Mapolda Metro Jaya, Kombes Raden Argo Yuwono mengatakan, dari dua lokasi pertemuan itu terungkap pembagian tugas masing-masing di mana ada pemufakatan untuk menduduki gedung DPR dengan menabrakkan bus dan masuk melalui gorong-gorong. Hasil pertemuan itu pun membahas dana menggulingkan pemerintahan yang mencapai Rp 3 miliar.

"Ada juga nanti caranya untuk menabrakkan kendaraan yaitu truk atau kendaraan nanti di pagar belakang DPR. Jadi dengan asumsi bahwa, jika semua massa sudah masuk gedung DPR. Akan kesulitan untuk dikeluarkan. Ini sudah ada pemufakatan," kata Argo.

Tudingan makar itu diprotes Al Khaththath. Koordinator Tim Pengacara Muslim (TPM) dan Tim Advokasi Gerakan Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GPNF MUI), Achmad Midan menyebut pihak kepolisian telah melakukan pelanggaran saat menangkap Al Khaththath di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, 31 Maret lalu.

"Harusnya kan kalau mau menangkap itu berikan tujuan dan maksud kedatangan, apalagi kepada ustaz. Ini main ditangkap saja," kata Achmad.

Achmad memprotes cara kepolisian menangkap Al Khaththath yang saat itu petugas tak menunjukkan surat perintah penangkapan. Bahkan, kata Achmad, pintu kamar berusaha dibuka paksa oleh petugas saat itu.

"Saat pak Ustaz (Al Khaththat) ini bertanya, tapi kata penyidik bilang 'sudah, langsung saja diperiksa di sana'," kata Achmad.

Selain itu Achmad mengaku sempat dipersulit saat hendak bertemu para pelaku makar jilid II di Rutan Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. "Para penjaga sempat mengatakan kalau tak ada yang namanya Al Khaththat di sini (Mako Brimob). Padahal saya bernegosiasi dengan pihak Rutan, katanya ustaz di sini dan boleh ditemui," pungkasnya.

Protes penangkapan itu juga dilakukan empat tersangka makar lainnya dengan mengajukan surat penangguhan penahanan. Kelimanya kini masih ditahan di Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Jawa Barat.




Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement