Rabu, 05 April 2017

Djarot, PDIP dan Pemilih Islam

djarot

Wakil Gubernur DKI Jakarta (non-aktif) Djarot Saiful HIdayat kini tampil islami. Tidak cukup hanya dengan mengenakan peci hitam, pasangan Basuki Tjahaja Purnama dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta ini juga rajin blusukan ke tempat pengajian, menyambangi majelis taklim dan sering berbicara tentang konsep kepemimpinan Islam moderat. Upaya kubu Ahok-Djarot untuk meraih simpati umat Islam justru berpotensi menggerus suara pemilih tradisional PDIP.

Masa kampanye Pilkada DKI Jakarta putaran kedua tinggal 13 hari sebelum memasuki masa tenang. Berbagai upaya untuk meraih simpati pemilih semakin gencar dilakukan pasangan calon (paslon) Ahok-Djarot dan Anies Rasyid Baswedan–Sandiaga Salahuddin Uno. Salah satunya mengubah penampilan Djarot lebih islami. Dalam beberapa hari terakhir Djarot selalu tampil dengan peci hitam. Foto pada kertas suara yang semula tanpa peci, juga diganti sesuai penampilan barunya tersebut.
Salah satu alasan mengubah penampilan Djarot konon didasarkan pada rendahnya perolehan suara dari basis pemilih Islam pada putaran pertama kemarin. Status Ahok sebagai terdakwa kasus dugaan penistaan agama Islam diyakini menjadi penyebab utamanya. Namun karena tidak mungkin mengubah penampilan Ahok, maka yang paling realistis “mengorbankan” Djarot.

Strategi tersebut sekilas terlihat cukup berhasil. Djarot lebih leluasa masuk ke kantong-kantong Nahdlatul Ulama (NU) dan kelompok Islam moderat lainnya. Terlebih setelah PPP kubu Romahurmuziy menyatakan dukungannya sehingga ketika berkampanye pasangan Ahok-Djarot lebih leluasa mengusung tema-tema Islam moderat. Di sisi lain, paslon Anies-Sandiaga dicitrakan sebagai representasi Islam garis keras. Munculnya spanduk-spanduk penolakan untuk menyolati jenasah kaum muslim yang menjadi pendukung Ahok, juga selebaran janji politik Anies-Sandiaga untuk menjadikan Jakarta sebagai kota syariah, di-blow up sedemikian rupa. Meski Anies sudah mengatakan kontrak politik tersebut hoax dan merupakan black campaign, Djarot tetap mengecam dan menegaskan penolakannya terhadap perda berbasis syariah di Jakarta.

Kini opini tercipta Pilkada Jakarta bukan lagi antara paslon muslim dan non muslim, melainkan Islam moderat versus Islam garis keras. Untuk menyukseskan opini tersebut, Ahok sengaja “disimpan” sehingga kini perdebatan masyarakat Jakarta di ruang-ruang publik bukan lagi antar Ahok versus Anies, melainkan Islam yang dicitrakan Djarot melawan Islam garis keras “di belakang” Anies.
Sebagai sebuah strategi, tim kampanye Ahok-Djarot sudah berhasil mencapai target. Tetapi apakah isu tersebut akan memberi pengaruh signifikan terhadap massa pemilih Islam dalam arti mereka yang semula mendukung Anies beralih menjadi pendukung Ahok? Apakah muslim pendukung paslon Agus Harimurti Yudhoyono - Sylviana Murni, yang awalnya cenderung akan memilih Anies setelah Agus-Sylvi terlempar dari persaingan, kemudian mengalihkan dukungannya kepada Ahok? Semudah itukah massa pemilih islam melupakan “kesalahan” Ahok?

Tanggal19 April mendatang menjadi ajang pembuktian berhasil tidaknya strategi tersebut mempengaruhi pemilih (Islam) Jakarta. Tetapi yang sudah pasti, pemilih PDIP, kelompok nasionalis, menjadi gamang ketika mendengar Djarot berbicara tentang Islam. Sebagai kader PDIP tulen, Djarot jelas lebih afdol ketika mengenakan kaos oblong, celana jeans dan topi laken ketimbang peci. Djarot jauh lebih  fasih berbicara tentang marhaenisme dibanding syariah.

Ingat, pada Pemilu 2014 lalu PDIP menjadi jawara di Jakarta. Artinya, gagasan tentang nasionalisme ala PDIP justru lebih diterima kalangan masyarakat Jakarta dibanding dogma agama yang dibuktikan dengan kekalahan partai-partai berbasis agama (Islam), termasuk PKS. Benar, ada faktor Joko Widodo yang kini menjadi Presiden RI, dalam meraih kemenangan tersebut. Tetapi Jokowi menyumbang suara dari pemilih di luar basis PDIP. Sebab pemilih tradisional PDIP tidak pernah mengenal figur.

Artinya, sepanjang calon tersebut diusung oleh PDIP, sekalipun sudah melukai kader sebagaimana dulu Sutiyoso yang diduga terlibat dalam kasus 27 Juli tetapi kemudian diusung oleh PDIP dalam Pilgub Jakarta, tetap didukung dan dipilih oleh kader-kader PDIP. Perubahan penampilan Djarot juga menandai ketidakpercayaan PDIP, sebagai partai pengusung utama, dalam menjual gagasan dan ide-ide kebangsaan kepada warga Jakarta. Tentu sebagian besar warga PDIP paham, apa yang dilakukan Djarot hanya “polesan” sementara untuk meraih simpati pemilih Islam.

Tetapi hal itu tentu menggerus keyakinan bahwa ide-ide nasionalis yang diusung PDIP juga menjangkau umat Islam. Jika para petinggi PDIP saja tidak cukup yakin ide-ide yang ditawarkan bisa mengakomodasi kepentingan seluruh rakyat Indoensia, sehingga harus berganti baju ketika berhadapan dengan kelompok pemilih di luar basis PDIP, bagaimana dengan kader-kader di bawah ketika berdebat di warung-warung kopi, di media-media sosial? Perubahan penampilan Djarot juga membuktikan PDIP masih sama seperti partai-partai lain yang mudah berganti baju demi meraih dukungan publik. Padahal sikap pragmatisme partai menjadi salah satu penyebab kegagalan demokrasi. Sikap ini melahirkan pemilih “bayaran” karena tidak diberikan pilihan atas dasar ideologi, melainkan hanya kepentingan sesaat.





Yon Bayu

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement