Senin, 24 April 2017

Kalah di Pilkada DKI, Ahok Jadi Rebutan Daerah Lain


ahok

Bagi seseorang yang berprestasi dan diakui oleh warga Jakarta bila merujuk tingkat kepuasan masyarakat diatas 70% atas hasil kinerjanya, bukan sesuatu yang perlu diresahkan jika kemudian mengalami kekalahan karena tidak diberi kepercayaan lagi untuk menjabat. Apalagi kekalahannya karena lebih pada politisasi agama dan faktor primordial. Itulah yang dialami oleh Basuki Tjahaya Purnama atau yang lebih dikenal sebagai Ahok. Menerima kekalahan dengan legowo bahkan sambil banyak cengengesan ketika mengucapkan selamat pada Anies-Sandi.

Dampak politisasi agama ini tidak akan berhenti di Jakarta saja yang dianggap sebagai barometer nasional. Di daerah lain pun nanti dipastikan akan juga mengikutinya. Tertanam keyakinan di masyarakat bahwa non muslim tidak akan pernah bisa memimpin daerah berpenduduk mayoritas muslim sudah terbentuk. Begitu pula sebaliknya, mayoritas daerah berpenduduk non muslim tentunya juga tidak akan rela bila dipimpin oleh orang beragama islam.

Demokrasi yang dirintis berpuluh tahun malah mengalami kemunduran.  Seperti yang selalu diucapkan Ahok bahwa jabatan adalah pemberian Tuhan dan bila nantinya dia tidak menjadi Gubernur DKI lagi pun akan  tetap disyukuri. Tuhan pasti mempunyai rencana lain.  Mungkin kekalahan Ahok adalah jalan terbaik bagi bangsa dan negara khususnya warga Jakarta. Tidak terbayangkan apa yang akan terjadi bila Ahok menang. Demo berkelanjutan yang tidak menutup kemungkinan berubah menjadi kerusuhan akan melanda Jakarta. Kita bisa lihat bagaimana ancaman revolusi terus diteriakkan oleh beberapa kelompok dan menganggap hanya kecurangan yang bisa mengalahkan jagoannya.

Lawan politik pun jauh-jauh hari juga sudah melontarkan klaim sama soal kecurangan ini. Tuhan masih sayang pada bangsa ini dan memilih rencana lain. Tidak ingin melihat kegaduhan berkepanjangan yang hanya membuat  Indonesia akan semakin terpuruk karena masalah perbedaan dan ambisi kekuasaan segelintir orang. Bila Ahok-Djarot bisa menerima dengan ikhlas kekalahan, diharap pendukungnya pun legowo dengan kenyataan yang ada.

Tidak perlu larut dalam kekecewaan hingga gagal move on seperti kaum sumbu pendek sejak cedera hati dan nalarnya gara-gara Pilkada DKI 2012 lalu ditambah bonus PIlpres 2014.  Orang tegas, jujur, bersih, berintegrasi dan berprestasi akan selalu dibutuhkan dimana pun. Tidak terkecuali yang terjadi pada diri Ahok. Sejak kekalahannya di Pilkada DKI, sekelompok masyarakat daerah lain baik mengatas namakan organisasi maupun secara pribadi telah menggelar karpet merah memberikan dukungan agar Ahok bersedia maju pada pemilihan Gubernur di daerah mereka.

Wacana pun muncul dari Forum Masyarakat Nusa Tenggara Timur Pencinta Ahok (Forma) meminta Ahok untuk maju dalam Pilkada Nusa Tenggara Timur pada 2018 mendatang. Baik melalui jalur perseorangan maupun lewat partai politik. Masyarakat NTT membutuhkan sosok pemimpin seperti Ahok. Mereka mengklaim banyak masyarakat NTT yang senang dan menerima dengan tulus bila Ahok bersedia memimpin NTT. Ketua Forma NTT Fritz Fios yang juga seorang dosen Universitas Binus Jakarta berujar bahwa butuh figur pemimpin seperti Ahok untuk membangun NTT dan membersihkan korupsi di sana.

Petisi menyuarakan permintaan agar Ahok bersedia maju dalam Pilkada Bali 2018 juga bermunculan. Salah satunya dari Yayasan Atman Shakti Bali. Berikut isi petisi yang tertulis.

Kegagalan Bapak Basuki T.Purnama (ahok ) Pada Pilkada DKI 19/4/2017 Membuka Peluang Beliau Untuk Dapat Di calonkan Sebagai Gubernur Di Provinsi Lainnya . Dengan Prestasi dan Karakter Kepemimpinan Yang Jujur , Bersih Dan Tegas Kiranya beliau Dapar MEMIMPIN provinsi BALI yang Merupakan UJUNG TOMBAK PARIWISATA INDONESIA yang MENDUNIA Saya Yakin Bali akan LEBIH MAJU, AMAN dan SEJAHTERA apabila DIPIMPIN oleh Bapak AHOK .

Yudha Ascarya (38), salah satu founder yayasan yang telah berdiri sejak tahun 2015 ini, mengakui bahwa alasan petisi dibuat lantaran kualitas Ahok yang dinilai mumpuni. Menurutnya, sangat disayangkan jika Ahok dengan kualitas pemimpin yang bagus kalah dalam pilgub di Jakarta. 
Bukan hanya daerah lain saja yang menginginkan Ahok untuk dijadikan "pelayannya". Dari terawangan penulis, Presiden Jokowi pun tidak mau ketinggalan juga akan ikut memperebutkan tenaga mantan Bupati Belitung Timur ini untuk ikut membenahi bangsa dan mensejahterakan rakyat. Tidak menutup kemungkinan jabatan strategis memang telah dipersiapkan.  Namun bisa juga akan mendorong Ahok agar maju di Pilkada Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Andai terpilih menjadi Walikota Palangka Raya tahun 2018, Ahok bisa mempersiapkan secepatnya realisasi wacana perpindahan ibukota. Walaupun secara jabatan lebih rendah dibanding Gubernur, namun bila Indonesia selagi masih dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi dan terpilih untuk periode keduanya dan melihat keseriusannya memindahkan ibukota ke Palangka Raya, akhirnya Ahok pun nantinya akan menjadi pelayan di DKI kembali.

Untuk  Jakarta kita doakan saja akan menjadi lebih baik dibawah kepemimpinan oke oce. Warganya semua memiliki rumah pribadi tanpa DP serta pekerjaan layak, reklamasi dihentikan, Alexis ditutup, ormas-ormas dapat dana, tiap RW diberi 3 M, bebas banjir juga kemacetan, persija punya stadion sekelas Manchester United, harga kebutuhan pokok murah meriah, program kartu plus-plus lancar dan masih banyak lagi yang serba oke oce. Amin.

Sebagai langkah awal Oke Oce dikabarkan akan melepas saham bir sebesar 26,25 yang dimiliki Pemprov DKI sejak tahun 1970 di perusahaan bir ternama, PT Delta Djakarta Tbk. Walaupun memberikan keuntungan dan pemasukan banyak tapi karena dipikir tidak berkepentingan langsung dengan masyarakat maka akan dilepas. Silahkan pembaca tebak sendiri kira-kira siapa nanti yang akan memborong saham-saham tersebut.....tapi yang jelas dan pasti bukan Ahok pembelinya.




Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement