Rabu, 19 April 2017

Syukurlah Ahok Kalah, Barisan Sakit Hati Jadinya Sulit Mengganggu Jokowi




Heronesia.com - “Masalah Ahok” adalah pintu masuk untuk menjatuhkan pemerintahan Jokowi. Tetapi kelompok ini memang kesulitan untuk “memprovokasi” massa untuk selanjutnya menjadi people power seperti 1998. Akhirnya terjadi “keajaiban” Ahok kepleset omongan. Propaganda dan agitasi dimainkan untuk menghimpun “umat Islam” yang merasa dihinakan. 

Sebenarnya Istana tahu akan skenario ini. Bagaimanapun juga jaringan intelejen dimiliki oleh lingkungan Istana. Tapi menghadapi dengan frontal secara politis juga tidak akan baik. Oleh karena itu polisi seperti memainkan isyu “makar”. Bahwa memang ada agenda dan skenario itu, tapi sulit dibuktikan secara hukum. Tetapi paling tidak, pemerintahan Jokowi sudah mulai menyerang agenda politik kelompok ini. 

Beberapa panglima lapangan “ditawan” dengan tuduhan makar dan tuduhan perbuatan asusila. Jokowi pun berusaha untuk bermain cantik dan melakukan tawar menawar secara halus. Baik tawar menawar kepada Freeport maupun kepada para Jendral dilingkungannya sendiri seperti Wiranto, Hendropriyono dan Rymizard. 

Dengan kalahnya Ahok, pintu untuk melakukan makar skenario pertama telah tertutup. Apalagi jika akhirnya pengadilan menjatuhkan hukuman pada Ahok.  Isu apalagi yang ingin dimainkan? Menunggu hingga 2019 bukan waktu yang ringkas bagi kelompok ini. Meski begitu, ada satu isyu yang dari kemarin-kemarin tetap dipelihara yakni: bangkitnya PKI baru. Tetapi bagi FPI, isu ini sebenarnya ahistoris. Agak sulit bagi jamaah dan pengikut FPI untuk mengikuti propaganda anti PKI. 

Berbeda halnya dulu Banser NU yang jelas-jelas dibentuk untuk melawan aksi sepihak PKI. Banser NU tidak bisa dianggap sebagai “alat” dari kekuatan angkatan darat saat itu sebab secara historis, memang terjadi pertempuran antara Banser NU dengan underbouw PKI saat itu. 

Oleh karena itu saya tidak mempersoalkan siapa pemenang Pilkada DKI Jakarta : Anies Baswedan. Karena tidak ada pengaruh atau perubahan apapun dalam konteks gerakan politik nasional. 

Apakah kemudian DKI Jakarta akan menerapkan Syariah Islam seperti Aceh? Mimpi. Jargon-jargon itu hanya propaganda. Atau apakah Anies lebih baik atau lebih buruk dalam menata pemerintahan di Jakarta, saya tidak akan mengulasnya dalam tulisan ini. 

Yang saya syukuri, Ahok telah kalah. Dan saat ini juga, agenda makar kelompok barisan sakit hati pada pemerintahan Jokowi, akan sedikit tertunda. Kemarahan massal yang dibakar oleh seruan propaganda yang massif selama ini disurutkan. 


Tapi apakah “kemarahan massal” bisa berbalik kepada kelompok pro Ahok? Marah mungkin saya, tapi marah yang kemudian termobilisasi dan menjadi amuk yang terorganisir nampaknya sulit terjadi. 

Posisi politik saya. Saya bukan pendukung Anis atau Ahok. Terlebih saya bukan penduduk DKI Jakarta yang punya hak pilih. Meskipun saya memilih Jokowi sebagai Presiden pada 2014, saya bukan bagian dari simpatisan dan partisan. Yang saya cemaskan adalah adanya bibit-bibit kebangkitan Orde Baru dan kroninya serta agen-agen Trump di Indonesia dengan memperalat umat Islam untuk melakukan goncangan.





Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement