Rabu, 12 April 2017

Terima Kasih Pak Jokowi, Seragam Kami Tak Lusuh Lagi




Heronesia.com - Begitu menyentuhnya lirih suara para pelajar di Pedalaman Borneo. Yang mereka minta hanyalah perlengkapan sekolah. Meski dalam kondisi terbatas, mereka tetap bersemangat untuk belajar.

Coba lihat seragam yang dipakai lusuh. Warnanya menguning. Tengoklah ke bawah, celana sudah tak bisa dikancing. Kaki mereka dekil, hanya sandal butut sebagai pelindung. Boro-boro berpikir beli sepatu

Kondisi ini rupanya sampai ke telinga Presiden Joko Widodo. Dia langsung mengutus tim untuk menyalurkan sejumlah paket bantuan. Selain tas, Jokowi juga memberikan ke tiap pelajar buku tulis 10 buah, pulpen, pensil, penghapus, penggaris, rautan, buku gambar, krayon, tempat pensil, tempat makan dan minum, sandal, serta satu set seragam sekolah termasuk topi dan dasi.

Jokowi tak hanya memberikan bantuan ke pelajar di SDN 04 terletak di Desa Sungkung, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Khusus di sekolah ini diberikan 135 paket bantuan.



148 Paket untuk para pelajar di SDN 11 Senebeh, 168 paket untuk para pelajar di SDN 10 Medeng, dan sebanyak 151 paket bantuan untuk para pelajar di SDN 09 Senoleng.

"Kepala Negara juga mengirimkan paket bantuan tersebut kepada pelajar-pelajar lainnya yang dan juga paket bantuan untuk sekolah yang berada di Kabupaten Bengkayang," kata Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, Rabu (12/4).

Untuk setiap sekolah, kata Bey, Jokowi memberikan paket bantuan berisikan 4 set foto Presiden dan Wakil Presiden, 2 bendera merah putih, buku soal-soal, 10 kotak kapur tulis, 2 penghapus papan tulis, 2 atlas, 2 peta dunia, dan 100 papan alas ujian. Bantuan tersebut dibagikan serentak Senin, 10 April pukul 09.00 WIB. 

Bantuan untuk SDN 04 Sungkung diterima oleh Kepala Sekolah Baring Susanto. Untuk SDN 09 Senoleng diterima oleh Kepala Sekolah Kasianus, bantuan untuk SDN 10 Medeng diterima oleh Guru Kelas Musa dan bantuan untuk SDN 11 Senebeh diterima oleh Guru Kelas Gabriel.

Seperti diketahui, kisah pilu para pelajar diceritakan oleh seorang guru. Namanya Anggit Purwoto. Sudah tujuh bulan Anggit mengabdi dari satu tahun masa tugas. Dia ikut program Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM3T) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dia mengajar SDN 04 Desa Sungkung. Anggit selalu berpesan pada murid-muridnya, "Fokus belajar jangan pedulikan kondisi. Tetap semangat menatap masa depan. Mereka punya mimpi," kata Anggit.






Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement