Rabu, 10 Mei 2017

Djarot, Tak Semua Politisi Bisa Jadi Sahabat Sepertimu


ahok, djarot

Kejadian kemarin cukup membuat saya tidak bisa tertidur. Saya terus mengutak-atik handphone , membuka berbagai berita dan kisah tentang hot news yang sedang terjadi di negeri ini termasuk informasi terkait lainnya. Dalam perbagai berita yang saya baca, sosok Djarot Saiful Hidayat adalah sosok yang memiliki aksentuasi tersendiri. Sikap dan sosoknya begitu sejuk untuk dicermati. Misal ketika dengan senyum khas mendampingi Ahok dalam setiap debat dalam Pilkada DKI Jakarta. 
Tak jarang dia memegang bahu rekannya itu untuk mengingatkan jikalau nadanya sudah mulai tak terkendali. Dia sangat tahu menempatkan posisi, tidak mendominasi, karena dia tahu siapa yang ahli. Makanya terlihat Djarot begitu sinergi dengan rekannya. Dia ahli menjadi penyeimbang rekan seperjuangannya.

Kemanisan Djarot tidak luntur. Dia makin memaniskan hidupnya dengan aksinya pasca terdakwa penistaan agama diputuskan bersalah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Dia mendampinginya dari awal hingga akhir, temasuk makan siang bersama di Cipinang kemarin. Bukan itu saja, Dia mengajukan diri menjadi penjamin dalam penangguhan tahanan rekan seperjuangannya itu.
Tidak tanggung-tanggung, dia rela dipenjara jikalau ada apa-apa asalkan sahabatnya itu tidak masuk bui. Keutuhan empatimu sangat kuat dirasakan. Diam dan datarnya mimik wajahmu saat dilantik, menandakan kau turut merasakan hal yang sama dalam sanubari sahabatmu. Sungguh, kau tunjukkan, suka dan duka tidak menjadi penghalangmu untuk menunjukkan kasih.

Kemudian, pagi ini aku melihat fotomu menahan air mata saat Balai Kota itu. Sungguh terbaca, satu mimik lugas yang seharmoni dengan asa dan rasa warga yang rindu Indonesia Raya terus berjaya dan amit-amit binasa. Mimik yang juga menguatkanku bahwa persahabatan sejati masih ada di muka bumi pertiwi.

Persahabatan yang indah karena ketulusan di dalamnya.

Tanpa ada aturan siapa yang perlu mendahului atau didahului.

Tanpa ada aturan siapa yang inferior dan superior.

Tanpa ada aturan siapa yang peka atau tidak peka.

Tanpa ada penghakiman siapa yang pantas untuk mengalah, bahkan siapa yang egois atau tidak.

Persahabatan sejati meletakkan masing-masing diri pada posisi yang seimbang dan setara, bahkan saling menempatkan diri untuk tidak di atas.

Persahabatan sejati tidak menakar atau menilai posisi belenggu apa kata orang,

karena atas berbagai kondisi kasih tetap mengalir tanpa perlu dipikir.

Persahabatan sejati tidak akan pernah berbumbu oleh kepentingan dan harga diri,

penerimaan dengan catatan kaki, dan tanpa tipu muslihat.

Pak Djarot, jikalau mencermatimu, aku benar-benar merasakan kedamaian dan arti persahabatan tanpa batas. Namun, apakah anak-anak Indonesia saat ini masih bisa menikmati hal yang sama seperti ini? Jikalau kondisi bangsa terus digerus dengan pembeda-pembeda citra diri baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahkan anak-anak negeri kita sedang diperhadapkan dengan suara-suara repetisi untuk saling mendengki dan membenarkan diri atas nama SARA, sehingga tidak sedikit lontaran diksi-diksi diskriminasi dengan mudah diucapkan tanpa memandang kanan-kiri.

Tapi, terima kasih Pak Djarot, dirimu telah memberi contoh tentang makna sahabat sejati. Persahabatan tanpa batas yang sepatutnya hadir dalam NKRI. Sungguh, kamu manis sekali!


Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement