Rabu, 03 Mei 2017

Membahas Etnis Orang Tak Akan Mendatangkan Uang Ke ATM-Mu




Heronesia.com - Karena mata saya agak sipit, kadang orang belum mengenal saya bertanya " Apakah kamu orang china " Saya tersenyum masam dan tak ingin mengatakan dengan bangga bahwa saya orang Minang atau saya anak bangsa, Indonesia. 

Mengapa? Karena saya kehilangan gairah untuk bicara lebih lanjut dengan orang yang serta merta menanyakan identitas saya atas dasar etnis. Lingkungan pergaulan saya yang multi etnis, tidak pernah sekali pun saya mendengar mereka bertanya tentang etnis. Semua karena nilai nilai kemanusiaan. 

Ini era abad 21. Membahas etnis tidak akan mendatangkan uang ke ATM anda dan tidak akan menjadikan anda seorang hebat. Cara berpikir menilai orang dari etnis adalah cara berpikir terbelakang dan dungu. Makanya saya malas melanjutkan diskusi, apalagi menjawab pertanyaan seperti itu.

Alain Badiou dalam buku Anti Semitism menyebutkan bahwa identitas adalah hasil ”compter-pou run”, ” cara mudah mempersatukan orang dungu. Artinya orang dungu menjadikan identitas, sebagai alat pemersatu dari segala carut marut yang ada dalam diri mereka. Maka ia pun tanpa disadari jadi Tuhan. 

Bagi mereka di luar, itu adalah ancaman yang harus di musuhi secara permanen. Dengan identitas musuh bersama di ciptakan. Dan identitas itu adalah bagian dari paranoia mereka. Hanya karena Garmen maka identitas orang sholeh dan tidak dirumuskan. Yang pakai baju putih longgar sampai mata kaki adalah penerus Nabi, selebihnya kafir. Setiap tulisan yang membawa identitas dalam bentuk dalil dari sebuah firman Tuhan adalah shohih dan wajib di ikuti, tanpa perlu di pertanyakan. Karena identitas akal sehat hilang, seperti nonton Monyet main bola.

Identitas dirumuskan oleh nama dan bahasa sebuah bangunan simbol yang disusun masyarakat. Identitas tampak sebagai perbedaan, dan perbedaan tampak karena perbandingan. Perbandingan selamanya mirip mata rantai yang tak putus-putusnya antara X dan lain-lain di dunia. Saya melintasi lebih saparuh kota di planet bumi ini. Saya bertemu dengan banyak orang dari segala etnis. 

Dari itu saya bukan hanya bertemu dengan orang dari etnis lain tapi juga menemukan diri saya sendiri. Sehingga sampai pada satu kedewasaan sikap. Bahwa kesadaran akan diri sendiri itu sekaligus kesadaran akan orang lain. Kita bukan siapa siapa. Siapapun anda, yang bernilai bukan mata sipit, kulit merah, sorban berlipat di kepala, bukan. Yang bernilai itu adalah sikap mental anda yang menghargai semua ciptaan Tuhan. Pribadi anda menentukan siapa anda.

Kalau ada politisi masuk penjara, bukan karena identitas ideologi yang diusungnya, tapi karena dia kriminal. Kalau ada ulama masuk bui atau tersangka pidana, bukan karena identitasnya sebagai ulama tapi karena dia memang kriminal. Kalau dia kaya raya bukan karena identitas dia Aseng atau Asing tapi karena dia memang kerja keras dan cerdas. 

Sebaliknya kalau ada aseng masuk bui bukan karena dia aseng tapi karena memang dia kriminal. Kalau ada orang miskin dan menadahkan tangan, bukan karena identitas dia pribumi atau apalah, tapi karena kebodohan dan kemalasan, dengan sikap engga penting dunia yang penting akhirat. Jadi berhentilah menilai untuk membenarkan dan menyalahkan karena identitas. Itu sikap orang dungu.






Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement