Rabu, 03 Mei 2017

Surat Menohok Untuk Dr Marissa Haque Yang Benci Ahok Tapi Bela Buni Yani





Heronesia.com - Untuk Dr. Marissa Grace Haque Fawzi, lulusan IPB dengan Disertasi Paling Tebal.

Bu Doktor Marissa,
Hari ini saya baca postingan FB Anda tentang Ezki Suyanto. Temennya Ezki mau somasi Anda tapi Ezki menolak. “Saya gak pernah terima uang, gak pernah serumah, saya lulus sementara Marissa nggak lulus. Buat saya itu udah cukup,”gitu katanya. Postingan Anda aneh gitu, ya. Lha Ezki gak kenal Buni Yani pas di Ohio dan juga pas dioperasi masih jadi komisioner KPI, kok.

Bu Doktor, 
enaknya nih ya, Ezki itu lumayan seleb dan tingkat kewarasannya ada di atas ‘lumayan’ jadi Bu Doktor memang posting di wall yang tepat. Banyak kali pun itu yang kasih komentar sementara dia cuek-cuek aja. Tentu ini menguntungkan Anda: Anda dapat panggung dengan spotlight terang benderang namun bebas dari masalah hukum.

Bu Doktor, 
dengan gelar doktor dan disertasi 700an halaman, apa pantas Anda berhobi twitwar ? Pantasnya itu ya, Anda produktif menulis jurnal atau buku, minimal artikel. Anda sangat rasis, nurani Anda tumpul dan cara Anda berlogika lemah. Anda bersekolah tapi tidak berpendidikan, tau bedanya ? Contohnya nih ya: Ada sekolah gajah tapi nggak ada pendidikan gajah, nah, ngerti ‘kan bedanya ?

Bu Doktor, 
Anda gembira bunga untuk Ahok-Djarot dibakar dan sebelumnya senang banget saat mereka kalah. Anda pernah nggak mengungkapkan rasa hepi waktu pelacuran diberantas Ahok? Kok nggak nunjukkin rasa syukur waktu kaum Anda,eh kita, diselamatkan Ahok? Karena Ahok bukan pribumi? Anda sehat? Memangnya Anda pribumi, Anda ‘kan keturunan Pakistan? Apa? Karena beliau kafir? Kristen termasuk agama resmi yang diakui negara. Anda mau melawan negara?

Bu Doktor, 
Anda membela Buni Yani habis-habisan hari ini. Apa hari ini Anda sudah bela hak anak-anak ? RPTRA itu singkatan dari Ruang Publik Terpadu Ramah ANAK dan Sandiaga berminat menggunakan salah satu pojoknya untuk para jomblo. Anda sudah bela apa belum tuh, hak anak-anak tersebut?

Bu Doktor, 
the great aim of education is not knowledge but action. Perilaku Anda jauh dari wajar. Anda memproduksi ‘noise’, bunyi bising mirip dengungan lebah. Doktor dengan disertasi 700 halaman semestinya ada di level memproduksi ‘voice’, bukan ‘noise’, sukur-sukur dah bisa jadi voice of the voiceless. Tahu bedanya suara dengan bunyi ? Kata pepatah, ‘Tong kosong nyaring bunyinya’ bukan ‘tong kosong nyaring suaranya’. Ahok ber'suara', kentongan yang dipukul ‘bunyi’nya ‘tung tung tung’. Susi Pudjiastuti ber'suara', pohon jatuh ‘bunyi’nya gedebuk, gitu. Beda ‘kan ?

Kalo masih nggak ngerti juga ya wajar. Anda tak punya lagi energi yang cukup untuk memikirkan apa bedanya suara dari bunyi karena energi Anda sudah terkuras untuk membenci begitu banyak hal. Apalagi yang Anda benci adalah hal-hal yang sebenarnya menenangkan jiwa:Negarawan yang menyelamatkan trilyunan uang rakyat, bunga warna-warni…Ah, orang yang melihat keindahan sebagai bencana pastilah jiwanya sepi, hatinya kosong, hidupnya suram, dan nalarnya tiarap. Dia pasti sebegitu lelahnya sehingga gagal berpikir jernih. * PukPukPuk *

Bu Doktor,
Ambillah waktu untuk mententramkan hati. Di FB, Anda tulis Anda lulus dari SMA terbaik di Indonesia. Berhentilah menipu diri sendiri, Anda tak secerdas yang Anda kira. Nggak semua SMA bagus menghasilkan murid yang bagus, Anda salah satu contohnya. Belajarlah menulis artikel lalu perpanjanglah itu menjadi buku. Seorang doktor harus produktif menulis panjang. Anda mulai aja dari hal kecil. Misalnya, membalas surat ini dengan logis, tidak rasis dan tidak sektarian. 1-2 halaman cukup. Sok atuh Bu Doktor, malu ah, masa’ doktor dengan disertasi 700 halaman levelnya cuma ngomel 140an karakter.

Cobalah sesekali bersuara, jangan hanya membuat bising. Anda bukan kaleng, bukan ?


3 Mei 2017
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement