Home Uncategorized Jokowi Itu “Membunuh” Dengan Senyap dan Perlahan

Jokowi Itu “Membunuh” Dengan Senyap dan Perlahan

1948
SHARE

Heronesia.com – “Jokowi itu lebih mengerikan. Jika ia hendak membunuh seekor kodok, ia elus dulu kodok itu, kemudian ia taruh dalam sebuah panci yang berisi air dingin, kodok merem melek kesenangan. Lalu nyalakan api kecil dari kompor dibawahnya, dan tanpa sadar kodok mati terebus pelan-pelan..”

Begitu kira-kira analogi Ahok mendeskripsikan bagaimana cara Jokowi berperang saat mereka berdua bersama-sama di DKI.

Cara perang pakde memang membingungkan. Terutama bagi orang yang biasa langsung bertarung berhadap-hadapan. Pakde tidak begitu, ia malah mendekati musuhnya lebih dekat dari temannya dan membunuhnya dalam senyap tanpa kelihatan.

Sesudah demo besar 411, kita melihat bagaimana pakde begitu geram. Dengan jaket bomber yang menjadi terkenal, Jokowi seolah mengancam lawan politiknya untuk jangan macam-macam dengannya.

Pakde akhirnya paham, bahwa titik lemahnya ternyata ada di Ahok. Ahok begitu terbuka menjadi target serangan yang akhirnya mengarah ke dirinya. Karena itu, ketika tahu bahwa ada “langkah yang salah” di pengadilan, maka pakde melakukan strategi ulang.

Biarkan Ahok dikandangkan dulu sementara, supaya mudah menggebuk lawan. Sulit bergerak ketika Ahok masih menjadi target serangan. Dengan tiadanya Ahok sebagai target serangan, maka pelan-pelan lawan dilucuti satu persatu.

Halus, tanpa banyak suara, kelompok mereka dipecah. Satu dibubarkan, satu kabur karena ditelanjangi “kesuciannya” habis-habisan dan satunya lagi terbuka kasus lama korupsi alat kesehatan.

Polisi pun melakukan reformasi di internalnya. Yang lama-lama – yang kerjasama dengan kaum intoleran -dibuang. Wajah baru muncul dengan target menjaga ketertiban dari preman berbaju keyakinan.

Ibarat catur, pakde menata ulang penempatan bidak supaya pertahanannya terlihat lemah, tapi sebenarnya itu jebakan yang mematikan.

Karena tidak tahan dilucuti satu persatu, komando lapangan lawan pun akhirnya harus memakai komisioner HAM sebagai juru-runding. Mereka ingin “rekonsiliasi” dengan pakde. Sempak putih dikibarkan..

Inilah yang disebut “membunuh dengan senyap dan perlahan”…
Mereka yang dulu ragu dengan gaya perang Jokowi, seharusnya sekarang berdiri dan bertepuk tangan. Jokowi tidak memainkan musik rock yang menggebu-gebu dalam berperang, ia seperti dirijen dalam kelompok orkestra besar.

Ia memainkan tempo keras, cepat, lembut, pelan dan halus secara bersamaan. Yang terlihat adalah komposisi ekstrim yang sulit diperkirakan dimana akhir dan mana awal. Tiba-tiba semua sudut menjadi senjata mematikan..

Selesai?

Belum. Salah satu sifat buruk wong Solo adalah sedikit pendendam meski tidak ditunjukkan. Maka lawan harus habis sehabis-habisnya karena sudah menyakiti hatinya. Tumpas ke akar-akarnya.

Dikabarkan ada beberapa ormas lagi yang sering mengganggu jalannya pemerintahan akan digebuk dan dibubarkan. Mereka sudah keterlaluan..

Saya selalu tertarik melihat cara perang pakde. Selalu ada sudut pandang baru dimana saya akhirnya belajar bahwa memperlihatkan emosi di hadapan lawan sesungguhnya adalah kelemahan..

Biarkan lawan yang emosi melihat kita. Kalau dia tidak emosi, keplak belakang kepalanya..

“Jancuk, siapa keplak kepala ana?? Apa gak tau ana ini Imam besar ???”. Loh, dia lagi… Kok berasa kenal?

(Visited 152 times, 1 visits today)
loading...