Jumat, 28 September 2018

Alissa Wahid Dan Yenny Wahid Diadu Oleh Oknum Politik, Alissa Wahid Langsung Angkat Bicara




Heronesia.com - Anak Mantan Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Alissa Wahid angkat suara terkait adanya pihak yang mengadu dirinya dengan adiknya, Yenny Wahid.

Hal itu diungkapkan melalui Twitter miliknya, @AlissaWahid, Kamis (27/9/2018).
Namun, ia tidak menyebutkan siapa orang yang ia maksud tersebut.

Alissa pun menganggap hal tersebut sebagai hal yang biasa dan menyikapinya dengan santai.
"Ada orang-orang yang memang susah untuk paham bahwa strategi yang berbeda tidak sama dengan bertikai, ya?

Mungkin banyak yang lupa, dengan istri/suaminya pun mereka berbeda. Nyatanya bisa serumah.
Saya & @yennywahid kok diadu. @GUSDURians mah woles," kicau Alissa Wahid.






Tweet Alissa Wahid
Tweet Alissa Wahid (Capture Twitter)

Sebelumnya, Alissa Wahid juga menuliskan terkait kondisi jaringan GusDurian paska Yenny Wahid menyatakan dukungannya untuk Jokowi-Maruf Amin.
"Saya paham kawan2 mungkin bingung soal gusdurian ini ya. Kebingungan ini HANYA karena selama ini yang muncul di publik hanya @GUSDURians. Gerakan kader GusDur yg berpolitik baru bbrp tahun terakhir ini dikonsolidasikan.







Lebih tepat mungkin kita sebut saja semua yang mencintai GD sebagai Pengikut Gus Dur ya.
Nah karena sepak terjang GD yg beragam, maka strategi gerakannya beda-beda. Oleh GD tidak dicampur.
Bahkan saat GD dirikan PKB, NU tidak berfatwa harus PKB. NU tetap pada Khittah.
Kenapa begitu? Karena watak gerakan sosial kemasyarakatan dengan gerakan politik memang berbeda.
Kalau semua dipolitikkan, ya blaen. Nanti polarisasi & serang-menyerang makin kuat. Tidak ada ruang tengah.
Nanti rumah ibadah pun jadi ruang rebutan. Padahal tugasnya memandu umat.
Di keluarga Ciganjur, ruang strategis juga dibuka. Secara utuh, dzurrriyah merawat warisan perjuangan Gus Dur.

Gus Dur sbg Guru Bangsa dan pejuang rakyat, dirawat bersama. Tidak ada muatan politis di sini.
Gus Dur sbg politisi, dirawat @yennywahid. Ini gerakan politik.

Gerakan @GUSDURians sudah menetapkan bahwa kami adalah gerakan kebangsaan.
Tidak ada strategi politik kekuasaan. Program2 bela petani, kegiatan lintas iman, promosi toleransi, penguatan demokrasi, dilepaskan dari siapa yang berkuasa baik nasional maupun daerah.
Coba twips bayangkan ya: sering sekali saya dihubungi orang, ingin dirikan @GUSDURians di kotanya. Jebul dia mau nyalon Bupati/DPRD.

Artinya, kegiatan lintas iman/advokasinya akan diberi muatan itu dong ya. Lalu bagaimana bs independen utk kritisi kebijakannya? Karena itulah, ke teman2 di lapangan saya selalu sampaikan: @GUSDURians bukan gerakan politik elektoral, tapi gerakan sosial.

Juga bukan lembaga dana. Karena sikap tegas inilah, justru kami berkembang pesat. Tidak dicemaskan akan dikooptasi utk kepentingan politik 5tahunan.

Karena itulah kawan2 @GUSDURians resah ketika media & publik sekarang menggunakan kosakata gusdurian untuk memotret sikap politik @yennywahid.

Sebagai penjaga warisan politik GD, Yenny mengelola gerakan politik yaitu gerakan Kader Gus Dur.





Kawan2 @GUSDURians resah bahwa penggunaan kata gusdurian dlm konteks politik akan berdampak pada kepercayaan publik atas program2nya untuk rakyat.
Contoh: program Hunian Sementara utk warga Lombok, apakah akan distigma jadi kampanye politik? Padahal kan tidak.

Yang tepat bagaimana? Semua pecinta GusDur punya hak politik.
Aktivis @GUSDURians juga berpolitik, tapi sbg warganegara. Dia boleh ikuti garis Gerakan Kader GusDur, ikut @yennywahid.

Tapi tak boleh atasnama @GUSDURians. Agar garis perjuangan kami tetap terjaga.
Jadi ini hanya soal DIKSI. Saya mohon keikhlasan twips semua membantu menjaga gerakan @GUSDURians tetap istiqomah.

Gunakan kata Pengikut GusDur utk merujuk orang-orang, dan "Gerakan Kader GusDur" utk gerpol.
Bantu ya kakak-kakak yang baik hatinya.
Terimakasih dan salam cinta Indonesia," tulis Alissa Wahid.


Next article Next Post
Previous article Previous Post