Rabu, 28 November 2018

Cantiknya Bunga Tabebuya di Surabaya: Mekar di Musim Hujan, Mirip Musim Sakura di Jepang




Heronesia.com -- Pemandangan di sejumlah jalan protokol di Kota Surabaya berubah. Bunga-bunga di tepian sejumlah jalan Kota Pahlawan itu mulai mekar. Pemandangan tersebut bahkan disebut-sebut sama dengan panorama mekarnya bunga sakura di Jepang, dan dijadikan sebagai lokasi warga untuk berswafoto.

Namun bunga yang tengah mekar itu bukan sakura, tapi bunga tabebuya.
Seorang warga Surabaya Rini Dwiyanti adalah salah satu yang memanfaatkannya untuk berswafoto. Menurutnya hal ini jadi kegembiraan tersendiri bagi warga ibu kota Jawa Timur itu.


Dwi mengapresiasi langkah Pemkot Surabaya yang telah menanam bunga Tabebuya ini sepanjang jalan Ahmad Yani. Menurutnya, pemandangan Surabaya saat ini seperti di Kota Tokyo, Jepang.

"Kami senang, foto di tepi jalan Ahmad Yani sekarang, seperti berada di Kota Tokyo," kata Rini.

Bunga tabebuya memiliki nama resmi Tabebuia Chrysotricha.

Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya Muhammad Fikser mengatakan Tabebuya itu kini tersebar di sejumlah jalan protokol. Di antaranya yakni Jalan Ahmad Yani, Jalan Darmo, dan Jalan Raya Gubeng, Surabaya.

"Bunga Tabebuya itu sebenarnya sudah banyak tersebar di beberapa tempat, sampai di pelosok jalan, tapi yang paling banyak di jalan-jalan utama protokol," kata Fikser, Selasa (27/11).

Fikser menyebut, Tabebuya yang tumbuh di Surabaya itu memiliki beberapa varian warna. Diantaranya kuning, pink, putih, dan terakhir yakni warna ungu yang disebut-sebut memiliki kemiripan dengan bunga sakura.

Menurutnya, saat itu belum banyak tabebuya yang ditanam. Barulah ketika 2010, Pemkot Surabaya memulai secara serius melakukan penanaman sejumlah jenis pohon dan tanaman, seiring dengan peremajaan ruang terbuka hijau di Surabaya.Bibit Tabebuya yang tumbuh subur itu, kata Fikser, berasal dari budi daya petani bunga yang berada di Kebun Bibit (Taman FLora) Surabaya. Namun, Pemkot, kata dia, juga tak jarang memasoknya dari petani-petani yang berasal dari Malang dan Kediri.

"Kami kan punya yang dibudidayakan di kebun bibit itu, tapai terkadang kita juga ambil dari petani yang ada di Kota Malang dan Kota Kediri," kata dia.

Fikser mengatakan, ide awal penanaman tumbuhan Tabebuya ini, tak lepas dari inisiasi Wali Kota Tri Rismaharini jauh sebelum ia menjabat saat menjadi Kepala Dinas di Surabaya.

"Idenya dari Ibu Risma, waktu dia masih menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya, belum jadi wali kota itu," papar Fikser.

Penanaman Tabebuya ini, kata dia, selain bertujuan untuk menambah keasrian Kota Surabaya, namun juga memberi habitat yang alami bagi ragam biota yang menggantungkan hidupnya dari dan di atas pohon.

Fikser menyebut, mekarnya Tabebuya ini terjadi dua kali dalam setahun. Yakni sekitar awal tahun, pada bulan April dan menjelang akhir tahun pada bulan November, seperti sekarang ini.

Namun yang unik, Kata Fikser, mekarnya tabebuya pada beberapa hari ini adalah fenomena yang unik, karena lazimnya bunga ini berkembang di waktu waktu musim kemarau, bukan pada musim menjelang hujan seperti sekarang ini.

"Mekarnya di musim hujan ini unik, karena saat mendung, angin berhembus, membuat Surabaya jadi romantis," kata dia, sembari tertawa.


Next article Next Post
Previous article Previous Post