Rabu, 28 November 2018

Hotman Paris Datangkan Pengacara Amerika untuk Tuntut Boeing, Hotman Minta Keluarga Korban Lion Air Lakukan Ini




Bruniq.com -- Pengacara Hotman Paris Hutapea benar-benar menunaikan janjinya untuk membantu keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610.

Janji tersebut adalah mendatangkan pengacara dari Amerika Serikat untuk membantu keluarga korban mencari keadilan dengan menuntut perusahaan raksasa Boeing.
Dilansir TribunWow.com, Hotman Paris mengunggah video bersama pengacara yang sudah datang di Indonesia itu melalui laman Instagramnya, Selasa (27/11/2018).
Hotman Paris meminta keluarga korban untuk secara langsung menghubunginya jika ingin melakukan penuntutan kepada Boeing.
"Halo keluarga korban Pesawat Lion Air, sebagaimana janji saya di Kopi Johny kepada empat keluarga yang datang ke Kopi Johny."

"Di sini sudah datang pengacara dari Amerika."
"Yang siap menggugat Boeing di Amerika, dan sudah ada di Jakarta."
"Kami sekarang lagi rapat di Jakarta."
"Bagi para keluarga yang memang berminat menggugat Boeing di Amerika, agar menghubungi saya."
"Agar saya perkenalkan dengan para pengacara di Amerika."
"Dan satu sekarang sudah ada di depan saya."
"Salam Kopi Johny," ujar Hotman Paris Hutapea."


Pada video selanjutnya, Hotman Paris tampak memperkenalkan sang pengacara kepada publik.
Dari video singkat itu, sang pengacara dari Amerika mengatakan pihaknya sudah 50 tahun berpengalaman mengahadapi kasus gugatan penerbangan.
Dia pun dengan senang hati ingin membantu keluarga korban tanpa bayaran.



Sebelumnya, pengacara kondang ini juga menyebutkan bahwa keluarga korban berhak menuntut ganti rugi kepada pihak maskapai dan pembuat pesawat.
Dalam unggahan lain di Instagram miliknya, ia menilai korban berhak menuntut jika kecelakaan terjadi lantaran kesalahan, human error, cacat tersembunyi atau pesawat yang tetap dipaksakan terbang meskipun sudah tahu terdapat masalah.
"Masyarakat Indonesia harus tau bahwa keluarga korban kecelakaan pesawat berhak menuntut ganti rugi sebesar-besarnya diluar jumlah pertanggungan atau jumlah klaim yang telah biasanya diatur dalam undang-undang," paparnya.
Ia juga membandingkan masyarakat Indonesia yang terlalu cepat puas apabila mendapat ganti rugi ratusan juta rupiah.
Hal itu jauh jika dibandingkan dengan negara Amerika Serikat yang menilai nyawa korban hingga triliunan rupiah.
"Di Amerika nyawa triliunan rupiah per penumpang kalau terjadi human error, atau ignorance, atau kesalahan, selamat berjuang," pungkasnya pada unggahan @hotmanparisofficial,  Rabu (31/10/2018) lalu.


Hasil Temuan KNKT
Sementara itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memiliki hasil investigasi awal atas jatuhnya Lion Air JT 610.
Hasil tersebut didapatkan KNKT dari hasil analisis terhadarp Light Data Recorder (FDR).
Dikutip TribunWow.com dari Kompas.com, analisis FDR menunjukkan bahwa terdapat kerusakan penunjukan kecepatan (air speed indicator) pada empat penerbangan sebelum jatuhnya JT 610.
Pada penerbangan dari Denpasar ke Jakarta, tercatat adanya perbedaan angle of attack (AoA) atau indikator penunjuk sikap pesawat terhadap arah aliran udara.
"Pada penerbangan dari Denpasar ke Jakarta muncul perbedaan penunjukan AOA, yang mana AOA sebelah kiri berbeda atau lebih 20 derajat dibanding sebelah kanan," ujar Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono di gedung KNKT, Jakarta, Rabu (7/11/2018).
Menanggapi analisis awal dari KNKT, Boeing dan otoritas penerbangan AS, Federal Aviation Administration (FAA), menerbitkan buletin keamanan untuk semua maskapai di dunia yang memakai pesawat sejenis.
Diketahui pesawat Lion Air merupakan pesawat Boeing 737 MAX 8.
Diharapkan, rekomendasi keamanan tersebut bisa dijadikan acuan para pengguna pesawat dengan jenis yang sama.
Buletin yang dikeluarkan Boeing bernomor TBC-19 tanggal 6 November 2018 diberi judul Uncommanded Nose Down Stabilizer Trim Due to Erroneous Angle of Attack (AoA) During Manual Flight Only.
Atau dalam artian, mekanisme stabilizer trim yang membuat hidung pesawat turun sendiri akibat pembacaan sensor angle of attack (AoA) yang kacau, hanya saat terbang manual.
AoA merupakan sudut yang dibentuk dari naik-turunnya moncong depan pesawat berdasarkan arah gerak pesawat.
Pembacaan sensor AoA ini juga digunakan untuk mencegah pesawat masuk ke kondisi kehilangan daya angkat (stall).
Karena permasalahan AoA menjadi indikasi awal ditemukannya masalah jatuhnya Lion Air JT 610, Boeing juga memberikan buletin operasi manual cara mengatasi jika ada permasalahan yang sama.
Ayah Korban Tuntut Boeing
Ayah dari korban pesawat Lion Air PK-LQP JT 610, yakni Rio Nanda Pratama menuntut produsen pembuat pesawat Boeing Co.
Melansir dari Channel News Asia, Jumat (16/11/2018), ayah Rio Nanda Pratama, H Irianto mengambil langkah ini lantaran perusahaan Boeing diduga tidak memperingatkan Lion Air dan pilotnya terkait kondisi desain yang tidak aman.
Irianto mengajukan gugatannya pada Rabu (14/11/2018) di Circuit Court of Cook County, Illinois, AS.
Dalam gugatannya ini, Irianto menggandeng pengacara asal Florida, AS Curtis Miner dari firma lawyer Colson Hicks Eidson.
Diketahui kantor pusat Boeing co memang berada di negara bagian Illinois, AS.
Sementara itu, Lion Air PK-LQP JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang jatuh ke Perairan Karawang pada Senin (29/10/2018).
Akibatnya, 182 penumpang dan 7 kru pesawat meninggal dunia dalam tragedi ini.


Next article Next Post
Previous article Previous Post