Sabtu, 01 Desember 2018

Fakta-fakta Mengejutkan Malam Terakhir Muktamar Pemuda Muhammadiyah




Bruniq.com - Fakta-fakta mengejutkan mencuat di malam terakhir Muktamar Pemuda Muhammadiyah XVII. Fakta ini diungkap tokoh senior Muhammadiyah, Amien Rais.

Amien mengungkap fakta-fakta setelah ada lima orang menemuinya. Kelima orang itu mengaku dipanggil Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti.

Kelima orang ini diminta untuk tidak mencalonkan diri sebagai kandidat Ketum PP Pemuda Muhammadiyah. Kelima orang itu mengaku diminta untuk memilih Sunanto yang akhirnya jadi yang terpilih.
Ia menyebut Ahmad Fanani lebih baik dari segi agama dan pemahaman ekonomi daripada kandidat lain.

"Diundang oleh Pak Haedar Nashir dan satunya Pak Abdul Mukti, 'Eh tolong kamu jangan maju, pilih saja Sunanto.' Menurut saya, ini adalah sebuah peristiwa yang luar biasa," ungkap Amien Rais dalam video yang beredar di kalangan PP Muhammadiyah, Jumat (30/11/2018).

"Ada pesanan kekuatan yang betul-betul berbahaya buat Islam lewat ketum dan Sekjen Muhammadiyah meminta kadernya itu suruh mundur," lanjut Amien.

Amien menyampaikan hal itu saat diundang oleh beberapa pihak, di antaranya Ketum PP Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, Ketua PP Muhammadiyah Ahmad Fanani, dan beberapa panitia Muktamar. Pertemuan dilakukan di Cavinton Hotel, Yogyakarta, Rabu (28/11).

"Ini permainan memang tinggal empat setengah bulan lagi. 17 April itu adalah pertaruhan yang terakhir apakah unsur-unsur PKI akan menang ataukah sebaliknya," kata Amien.
Selain itu, Amien juga menyebut ada yang aneh dalam kepanitiaan Muktamar. Menurutnya, ada orang luar yang nimbrung di kepanitiaan.

Amien lantas menyinggung pertemuan sejumlah pimpinan PP Muhammadiyah dengan Presiden Jokowi yang kini jadi capres nomor urut 01 berdampingan dengan Ma'ruf Amin.


Amien tidak rela Muhammadiyah yang sedemikian hebat kemudian bermain-main politik. Dia mendorong Muhammadiyah mengetuk pintu langit bukan istana. Amien juga menyinggung tokoh yang bertemu dengan Jokowi setelah itu memberikan pernyataan seperti Jubir presiden.

"Dan kalau sering datang ke istana kemudian pulangnya lebih memble," kata Amien.

Dalam kesempatan pertemuan itu, Amien juga bicara soal hari pencoblosan Pilpres pada 17 April 2019 ibarat perang Baratayuda atau armageddon alias hari kiamat. Dia meminta Pemuda Muhammadiyah yang hadir dalam pertemuan itu untuk berkonsolidasi.


"Ini pertarungan Bratayudha, Armageddon, sudah kurang dari empat setengah bulan. Jadi kita harus betul-betul konsolidasi," imbuh mantan Ketum PP Muhammadiyah ini.

Amien menutup pembicaraan dengan mendoakan Pemuda Muhammadiyah segera tegak lagi.

"Mudah-mudahan Pemuda Muhammadiyah berdiri tegak, boleh guncang, boleh sebentar, tapi kemudian tegak lagi dan mudah-mudahan 17 April malam hari kita syukuran besar," ungkapnya.

Selain Amien, dinamika di Muktamar Pemuda Muhammadiyah XVII ini juga disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) DIY, Iwan Setiawan. Isu pertama yakni soal dugaan intervensi aparat kepolisian yang menanyakan sejumlah hal, termasuk nama kandidat ketum yang diusung di muktamar.

"Saya dapat laporan pimpinan Pemuda Muhammadiyah di tingkat daerah dan wilayah memang dikontak aparat keamanan," ujar Iwan Setiawan saat dihubungi wartawan Selasa (16/10) lalu.


"Mereka (aparat kepolisian) mengajak silaturahmi dan bicara soal dinamika muktamar, bertanya soal calon-calon ketua umum Pemuda Muhammadiyah yang akan menggantikan Dahnil dan itu masif dilakukan di semua wilayah di Indonesia," lanjutnya.

Isu kedua yakni polemik dugaan penyelewengan dana apel dan kemah pemuda Islam di Kompleks Candi Prambanan tahun 2017 silam. Menyikapi polemik ini PP Pemuda Muhammadiyah memilih mengembalikan dana kemah Rp 2 miliar ke Kemempora.

Ketum PP Pemuda Muhammadiyah periode 2014-2018, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengaku tak mengetahui siapa yang menghembuskan isu tersebut. Dia juga tidak tahu siapa pelapor kasus dugaan penyelewengan dana kemah ke Mapolda Metro Jaya.

Saat ditanya apakah isu penyelewengan dana kemah dihembuskan orang internal untuk menggoyang muktamar, Dahnil mengaku tidak tahu. "Saya enggak tahu yang persis," jelasnya di sela sidang tanwir pra muktamar di UMY, Minggu (25/11) lalu.

"Tapi yang jelas siapapun yang melakukan itu, siapapun yang berusaha menebar fitnah terhadap Pemuda Muhammadiyah, terhadap saya, yang jelas ini menyakitkan buat saya secara pribadi, keluarga begitu ya," lanjut jubir paslon capres Prabowo-Sandi tersebut.

Di luar isu yang beredar itu, Sunanto dinyatakan terpilih sebagai Ketum PP Pemuda Muhammadiyah periode 2018-2022. Sunanto atau yang akrab disapa Cak Nanto memperoleh 590 suara. Di posisi setelahnya ada Ahmad Labib 292 suara, Ahmad Fanani dengan 266 suara, Muhammad Sukron 2 suara, Faisal 2 suara, dan Andi Fajar Asti 0 suara.


Next article Next Post
Previous article Previous Post