Selasa, 26 Februari 2019

Kisah Misterius Komandan TNI, 11 Hari Tersesat di Hutan Papua Buru Pemberontak


TNI, perjuangan

Heronesia.com - Banyak kisah menarik dan misteri yang diceritakan oleh prajurit TNI dalam bertugas. Ini kisah perjuangan seorang prajurit di medan Papua. Tanah Papua dikenal berat dengan hutan yang begitu luas.

Kisah ini tertulis dalam buku 'Kopassus Untuk Indonesia' karya Iwan Santosa dan E.A Natanegara. Ada cerita aneh, lucu, seram, ajaib dan konyol dari prajurit Kopassus yang ditugaskan di Papua.

Mulai dari carita prajurit yang tersasar di hutan yang hanya memakai kaos dan sepatunya untuk bertahan hidup. Sampai cerita prajurit heroik tergantung di ketinggian hampir 5.000 meter di dinding karang pergunungan Jayawijaya selama empat hari, berusaha mengevakuasi jenazah korban pesawat tanpa bantuan alat ekskavasi hanya menggunakan baju loreng.

Seperti kisah seorang anggota Kopassus. Dalam buku itu namanya disamarkan dengan nama Pak Selvanus (bukan nama asli). Saat dikirim ke Papua, Selvanus ditempatkan sebagai Komandan Pos di Timika yang waktu itu sangat rawan kerena keberadaan Kelly Kwalik dan Thadeus Yogi yang cukup rajin membunuh tentara. Dua pekan sekali Selvanus mendengar ada anggota TNI yang terbunuh. Sampai suatu hari, turun perintah dari Pangdam untuk menggerebek suatu desa markas OPM yang jaraknya enam hari jalan kaki dari Posko Timika.

Selvanus meminta prajurit-prajurit terpilih dari Batalyon 752 Sorong untuk dibawa menyerbu desa markas OPM. Pasukan tersebut berangkat pada bulan Oktober. Di hari kelima mereka bertemu sungai dengan arus sangat deras untuk diseberangi. Dari sepuluh prajurit, satu persatu berhasil menyeberangi sungai tersebut. Saat prajurit keenam ingin menyeberang, lucunya prajurit ini tidak bisa berenang.

"Kebetulan saya jago berenang, jadi ketika saya lihat prajurit itu masuk ke dalam pusaran air di tikungan sungai, saya juga ikut masuk menyelam. Akhirnya ia terbuang dan terus saya ikuti. Sampai suatu titik sungai itu hilang jadi air terjun. Ya saya minggir," kata Selvanus.

Sampai akhirnya dia menepi. Tinggallah Selvanus sendiran di hutan Papua yang berada di ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut, pakai baju basah tanpa bekal.

"Lima orang sudah menyeberang, tiga orang belum menyeberang dan saya hanyut bersama si Kopral. Ini adalah satu-satunya motivasi saya untuk bertahan dan mencari si Kopral, karena anak buah saya yang di sungai pasti bisa saling menolong," ujar Pak Selvanus.

Besoknya, walau tidak makan seharian Selvanus masih optimis anak buahnya tersangkut dan selamat. "Di sinilah mungkin saya terlalu asyik mencari sehingga ketika mau balik, saya sudah tidak bisa kembali lagi. Di kepala saya, saya harus mencari arah ke Timika untuk lapor ke Komandan dan melanjutkan mencari anak buah yang hilang. Tidak terasa sudah masuk hari keempat. Sepatu saya sudah hilang karena hanyut ketika dibuka waktu tidur. Hari keenam saya sudah di ambang sadar," cerita Selvanus.

Selvanus tidak bisa lagi menceritakan secara detail apa yang terjadi selama menghilang di hutan. Yang diingat, dia berusaha bertahan hanya makan akar tanaman, pucuk pinang atau daun-daunan yang tidak beracun.

"Hari keenam itu saya sudah melihat alam lain. Saya mulai ngobrol dan komunikasi. Mungkin halusinasi kerena saya mendengar suara kampung, suara masjid, suara orang nyanyi-nyanyi di gereja," tuturnya.

Di hari keenam itu, yang diingat Selvanus hanya ketika waktu bangun tidur jam dua belas siang dan ketika bangun tidur, sisanya tidak diingat lagi. Anehnya, dia masih bisa terus berjalan sampai hari kesebelas dan menyeberangi sungai dengan lebar 200 meter sebelum tiba di Timika.

Menurut Wakil Komandan Satgasnya yang waktu itu berada di Jayapura, Selvanus tiba di Timika hanya tinggal tulang berbalut kulit, mata yang terus berputar liar seperti penari kecak dan telapak kaki bengkak penuh dengan potongan (bukan dari atau serpihan tapi potongan) kayu. Empat orang dokter dari Freeport turun untuk memeriksanya dan dia dinyatakan sehat, bebas mulai dari cacing tambang sampai malaria.

"Setelah dinyatakan sembuh saya diundang datang ke Jayapura untuk makan-makan dengan Danjen, Pangdam dan staf-stafnya. Anehnya, makanan satu meja itu semua habis saya makan sendiri!" cerita Selvanus dengan tertawa mengingat kejadian itu.

Selvanus melanjutkan menceritakan selama hidup di hutan dia tidak sendiri melainkan, ada yang menemani namun makhluk yang hidup di dunia lain. "Saya makan banyak begitu bukan balas dendam, tapi rupanya ada yang 'ikut.' Tiba-tiba saya ingat bahwa saya salama di hutan memang selalu ditemani tiga orang. Kalau matahari sudah terbenam, satu memijat kaki, satu memijat pundak dan satu lagi berbagi rokok sama saya. Alamnya sudah lain. Motivasi saya waktu sadar kalau jam dua belas siang tinggal bagaimana nasib pasukan saya?" kata Selvanus menceritakan kisah anehnya.

Setelah kejadian itu, Selvanus dibawa ke orang pintar untuk dimandikan jam dua belas malam dengan air bunga. Selesai dimandikan dia hanya mengajukan satu pertanyaan, "Kok saya ada di Jayapura?"

Cerita Selvanus selamat setelah hilang belasan hari di tengah hutan di Papua menyimpan hal misterius. Namun dari cerita Selvanus ada contoh luar biasa, seorang komandan TNI tak meninggalkan anak buahnya saat dalam bahaya. (Merdeka)



Loading...
Next article Next Post
Previous article Previous Post