Selasa, 26 Maret 2019

Orang Ini ungkap Mengapa Elektabilitas Jokowi Turun


Calon anggota legislatif DPR dari Partai Nasdem Daerah Pemilihan Jember - Lumajang Charles Meikyansah (tengah), dan petani tembakau melakukan deklarasi dukungan Capres - Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo - Ma'ruf Amin di gudang tembakau Desa Kertonegoro, Jenggawah, Jember, Jawa Timur, Kamis 14 Maret 2019. Sebanyak 1300 buruh dan petani tembakau di Jember melakukan deklarasi dukungan untuk Jokowi-Ma'ruf Amin pada Pilpres 2019. ANTARA FOTO/Seno
Rancah.com - Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti, mengatakan turunnya elektabilitas calon presiden inkumben Jokowi di survei Litbang Kompas karena tim sukses terbuai banyaknya deklarasi dukungan. Timses dianggap tidak memperhatikan kekuatan di akar rumput.

"Padahal deklarasi dukungan itu juga belum jelas ukurannya, sejauh mana bisa terkonversi menjadi suara," ujar Rangkuti dalam acara diskusi di bilangan Gambir, Senin, 25 Maret 2019.
Hal yang sama diungkapkan peneliti Para Syndicate Arie Nurcahyo. Menurut Arie, deklarasi dukungan itu ibarat etalase yang hanya terlihat di permukaan. "Sementara yang terpenting kan bagaimana kondisi dapur. Sejauh ini, 01 juga terbuai selebrasi dukungan, yang belum tentu berdampak signifikan kepada elektabilitas," ujar Arie saat ditemui di lokasi yang sama.

Sebelumnya Litbang Kompas merilis hasil survei yang dilakukan pada 22 Februari 2019-5 Maret 2019. Hasilnya, jarak elektabilitas antara pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno, semakin tipis.

Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf berada di angka 49,2 persen, sementara Prabowo-Sandiaga 37,4 persen. Adapun, 13,4 persen responden menyatakan rahasia. Angka tersebut berbeda ketimbang survei Litbang Kompas pada Oktober 2018. Saat itu jarak elektabilitas keduanya 19,9 persen. Pasangan Jokowi-Ma'ruf mengantongi 52,6 persen dan Prabowo-Sandiaga 32,7 persen, sementara 14,7 responden menyatakan rahasia.

Menurut Rangkuti, ada beberapa cara agar Jokowi bisa mempertahankan suara, diantaranya dengan menawarkan kebaruan dan program yang menjanjikan perubahan. "Sebaliknya, untuk kubu Prabowo seharusnya menjadi peluang untuk menawarkan hal yang lebih baik," ujar Rangkuti.

Peneliti Litbang Kompas Toto Suryaningtyas memprediksi, tiga pekan menjelang hari-H pencoblosan, suara kedua paslon tidak jauh bergeser dari hasil survei teranyar mereka. "Prediksi kami, batas tertinggi suara kedua paslon sesuai hasil ekstrapolasi kami," ujar Toto saat ditemui di lokasi yang sama.

Adapun hasil ekstrapolasi atau perluasan di luar data Litbang Kompas yang tersedia, Jokowi-Ma'ruf unggul dengan angka 56,8 persen berbanding 43,2 persen dari Prabowo-Sandiaga.



Loading...
Next article Next Post
Previous article Previous Post